Tanggapan Orang Madura Terhadap Perang Sampit
: Many Madurese were caught off guard by the sudden outbreak of violence. The brutality and speed at which the conflict escalated left communities in shock, with deep psychological trauma for survivors.
Salah satu tanggapan paling umum yang muncul dari komunitas Madura adalah penolakan terhadap narasi bahwa mereka adalah pihak yang "agresor" atau "pemicu" utama konflik. Sejarawan dan budayawan Madura, K.H. Moh. Syafi’i, menyatakan bahwa akar masalah bukanlah kebencian etnis, melainkan akumulasi krisis sosial ekonomi dan ketimpangan struktural. tanggapan orang madura terhadap perang sampit
Tanggapan pertama dan paling dominan adalah rasa kehilangan yang masif. Ribuan warga Madura yang sudah menetap selama puluhan tahun, bahkan lahir dan besar di Kalimantan, tiba-tiba harus kehilangan segalanya dalam semalam. Banyak keluarga yang terpisah dan kehilangan harta benda. Trauma ini membuat sebagian besar orang Madura yang selamat merasa "tercabut dari akarnya," karena bagi mereka, Sampit sudah menjadi rumah kedua. 2. Upaya Re-evaluasi Budaya dan Stigma "Carok" : Many Madurese were caught off guard by
Solidaritas ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan kekerabatan orang Madura. Mereka memandang bahwa penderitaan orang Madura di Sampit adalah penderitaan seluruh etnis Madura di mana pun berada. 4. Dorongan untuk Rekonsiliasi dan Perdamaian Sejarawan dan budayawan Madura, K
Tanggapan masyarakat Madura cenderung defensif terhadap label "suka berperang." Mereka menekankan bahwa carok bukanlah tindakan kekerasan tanpa alasan, melainkan upaya terakhir untuk mempertahankan harga diri ( maloh ) yang sangat dijunjung tinggi. Meski demikian, peristiwa Sampit memaksa banyak tokoh Madura untuk lebih gencar mengampanyekan pentingnya adaptasi budaya di tanah rantau melalui prinsip: "E dimma bume ejingjing, e dissa langan ejonjong" (Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung). 3. Solidaritas Tanpa Batas di Pulau Garam
– Lebih dari dua dekade telah berlalu, namun gurat trauma dan pertanyaan besar masih tersisa. Perang Sampit (2001) yang menewaskan ratusan jiwa dan memaksa eksodus besar-besaran warga Madura dari Kalimantan Tengah (Kalteng) hingga kini menjadi babak kelam sejarah Indonesia. Di mata publik nasional, konflik ini kerap disederhanakan sebagai "orang Dayak vs orang Madura." Lantas, bagaimana sebenarnya tanggapan masyarakat Madura, baik yang kini kembali ke kampung halaman di Pulau Madura maupun yang masih memilih tinggal di Kalteng, terhadap peristiwa berdarah tersebut?